The Darkest Side (Prolog)

The Darkest Side

Note : Ffnya abal-abal. Jika tidak suka cukup tekan tombol back

Happy Reading

-Story Begin-

Tembok besar itu menjadi satu-satunya penghalang kokoh. Tidak ada apapun yang dapat kugunakan saat ini. Para keparat itu pasti akan menemukanku dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena percuma saja aku menebaknya, hal itu pasti akan meleset. Lebih baik aku membacanya secara langsung dari pikiran para biadab itu. Suara langkah kaki yang berlari semakin mendekat membuat nyaliku menciut. Harusnya aku tidak boleh bertindak seperti ini, aku bisa membaca pikiran mereka dan mengetahui apa yang akan mereka lakukan padaku.

 

“She’s not here.” Itu suara laki-laki berambut panjang yang tadi mengejarku, dan aku masih meringkuk dibalik tembok. Sesekali menahan nafas walaupun aku yakin bahwa hal itu tidak berguna. Didepan bangunan ini terdapat hamparan  padang rumput yang luas. Pohon cemara berjarak beberapa meter dari tempatku bersembunyi. Aku tidak yakin bahwa dalam waktu secepat kilat pohon itu yang berubah menjadi pelindungku.

Continue reading

Advertisements

Love Obsession Chapter 1

Love Obsession

Note : Ceritanya murni dari otak aku. Entah nyambung atau tidak. Kalau tidak suka cukup tekan tombol back.

Happy Reading

-Story Begin-

Ballroom disebuah hotel mewah itu kini dirubah menjadi tempat yang sangat megah. Beberapa wanita bisnis terlihat lebih glamour dari biasanya. Seperti manekin yang dipajang dibutik-butik terkenal, mereka mengenakan gaun dari rancangan para designer ternama, dengan perhiasan yang terlihat mencolok dan berkilau. Para perempuan-perempuan itu terlihat sedang asyik bercakap-cakap dengan rekannya masing-masing.

 

Hyera menatap bosan sekelilingnya, selalu seperti ini suasana setiap pesta yang digelar dengan mewah oleh keluarganya. Ia menyesap sampanyenya kembali, menggoyang-goyangkan gelas langsing tersebut hingga cairan yang berada didalamnya terombang-ambing. Ekor matanya menangkap seseorang yang tak asing lagi berjalan memasuki pintu besar ballroom tersebut. Hyera memegangi gelasnya dengan erat, gelenyar aneh menjalari tubuhnya. Namun gadis itu segera menggelengkan kepala agar sadar dimana saat ia berada. Kedua mata Hyera memperhatikan setiap gerakan laki-laki yang tengah menggandeng seorang wanita yang terlihat lebih tua darinya. Wanita itu menyunggingkan senyum manis dengan sebelah tangannya menggenggam erat tangan laki-laki disampingnya.

Continue reading