[HIATUS]

 

Pertama kali aku mutusin buat hiatus itu rasanya gimana gitu ya.. pokoknya sedih banget. Tapi ini nggak ada hubungannya dengan Super Junior. Ini murni karena kemauan aku sendiri. Ada banyak hal yang jadi pertimbangan aku untuk hiatus. Salah satunya karena koneksi wifi. Yap… wifi di rumah aku lagi rusak. Jadi jarang buka laptop dan update. Selain itu aku juga sudah mau naik kelas 12, itu artinya akan dipusingkan dengan berbagai tugas dan tugas. Jadi aku mutusin buat hiatus nggak tahu sampai kapan.

Untuk ff yang belum terselesaikan sama sekali, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya untuk readers ku tercinta. Otak ini lagi stuck dan susah diajak nulis.. setelah dapat beberapa kata udah hilang lagi inspirasinya. Dan juga aku memutuskan untuk meng-unpublish semua ff disini, kecuali beberapa saja.

Tapi kalian tenang aja.. kalau memang ada yang ingin nostalgia sama cerita aku. Kalian bisa cari di Wattpad dengan nama akun favodhky..

Sekian dari aku. Terima kasih untuk readers yang selama ini selalu membaca karya-karya ku.

 

XOXO

Owner

The Darkest Side (Prolog)

The Darkest Side

Note : Ffnya abal-abal. Jika tidak suka cukup tekan tombol back

Happy Reading

-Story Begin-

Tembok besar itu menjadi satu-satunya penghalang kokoh. Tidak ada apapun yang dapat kugunakan saat ini. Para keparat itu pasti akan menemukanku dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena percuma saja aku menebaknya, hal itu pasti akan meleset. Lebih baik aku membacanya secara langsung dari pikiran para biadab itu. Suara langkah kaki yang berlari semakin mendekat membuat nyaliku menciut. Harusnya aku tidak boleh bertindak seperti ini, aku bisa membaca pikiran mereka dan mengetahui apa yang akan mereka lakukan padaku.

 

“She’s not here.” Itu suara laki-laki berambut panjang yang tadi mengejarku, dan aku masih meringkuk dibalik tembok. Sesekali menahan nafas walaupun aku yakin bahwa hal itu tidak berguna. Didepan bangunan ini terdapat hamparan  padang rumput yang luas. Pohon cemara berjarak beberapa meter dari tempatku bersembunyi. Aku tidak yakin bahwa dalam waktu secepat kilat pohon itu yang berubah menjadi pelindungku.

Continue reading

Love Obsession Chapter 1

Love Obsession

Note : Ceritanya murni dari otak aku. Entah nyambung atau tidak. Kalau tidak suka cukup tekan tombol back.

Happy Reading

-Story Begin-

Ballroom disebuah hotel mewah itu kini dirubah menjadi tempat yang sangat megah. Beberapa wanita bisnis terlihat lebih glamour dari biasanya. Seperti manekin yang dipajang dibutik-butik terkenal, mereka mengenakan gaun dari rancangan para designer ternama, dengan perhiasan yang terlihat mencolok dan berkilau. Para perempuan-perempuan itu terlihat sedang asyik bercakap-cakap dengan rekannya masing-masing.

 

Hyera menatap bosan sekelilingnya, selalu seperti ini suasana setiap pesta yang digelar dengan mewah oleh keluarganya. Ia menyesap sampanyenya kembali, menggoyang-goyangkan gelas langsing tersebut hingga cairan yang berada didalamnya terombang-ambing. Ekor matanya menangkap seseorang yang tak asing lagi berjalan memasuki pintu besar ballroom tersebut. Hyera memegangi gelasnya dengan erat, gelenyar aneh menjalari tubuhnya. Namun gadis itu segera menggelengkan kepala agar sadar dimana saat ia berada. Kedua mata Hyera memperhatikan setiap gerakan laki-laki yang tengah menggandeng seorang wanita yang terlihat lebih tua darinya. Wanita itu menyunggingkan senyum manis dengan sebelah tangannya menggenggam erat tangan laki-laki disampingnya.

Continue reading

Love Obsession (Prolog)

Note : Awas typo. Fanfictionku masih jauh dari kata bagus.

Story Begin-Meet Again-

Cuaca diluar sangat cerah, bahkan tak jarang burung-burung yang berterbangan bersiul menyanyi dengan dunia. Aroma tanah yang terguyur hujan semalaman membuat suasana semakin nyaman. Angin musim gugur yang berhembus menerbangkan lembaran-lembaran daun maple yang berserakan diatas jalan yang dilalui Hyera. Gadis itu merapatkan mantelnya untuk menghalau rasa dingin yang timbul. Ia menarik syall rajutan yang bertengger dilehernya kemudian menghirupnya dengan seksama. Setelah dirasa cukup, ia kembali melingkarkan syall tersebut kelehernya. Jalan setapak itu masih nampak sepi, hanya beberapa orang saja yang rela bangun pagi untuk menikmati indahnya alam dimusim gugur. Hyera berjalan menyusuri jalan tapak tersebut, ia menengok kekanan dan kiri menikmati semua pemandangan yang tersaji. Pandangannya berhenti ketika melihat seorang laki-laki  terlihat sedang berjongkok mengambil sesuatu didalam kubangan lumpur. Continue reading