The Darkest Side (Prolog)

The Darkest Side

Note : Ffnya abal-abal. Jika tidak suka cukup tekan tombol back

Happy Reading

-Story Begin-

Tembok besar itu menjadi satu-satunya penghalang kokoh. Tidak ada apapun yang dapat kugunakan saat ini. Para keparat itu pasti akan menemukanku dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena percuma saja aku menebaknya, hal itu pasti akan meleset. Lebih baik aku membacanya secara langsung dari pikiran para biadab itu. Suara langkah kaki yang berlari semakin mendekat membuat nyaliku menciut. Harusnya aku tidak boleh bertindak seperti ini, aku bisa membaca pikiran mereka dan mengetahui apa yang akan mereka lakukan padaku.

 

“She’s not here.” Itu suara laki-laki berambut panjang yang tadi mengejarku, dan aku masih meringkuk dibalik tembok. Sesekali menahan nafas walaupun aku yakin bahwa hal itu tidak berguna. Didepan bangunan ini terdapat hamparan  padang rumput yang luas. Pohon cemara berjarak beberapa meter dari tempatku bersembunyi. Aku tidak yakin bahwa dalam waktu secepat kilat pohon itu yang berubah menjadi pelindungku.

Yang kulakukan sekarang hanyalah menghembuskan nafas lega. Lega karena para preman itu sudah pergi. Dan yeah seperti biasa tebakanku selalu meleset. Salah satu anggota dari geng tersebut berdiri dihadapanku ketika aku berbalik badan. Tubuhnya tinggi menjulang, tapi aku ragu satu hal. Laki-laki itu mengenakan pakaian yang terlihat mahal bukan pakaian biasa seperti para geng. Dan sialnya aku tidak dapat membaca pikirannya, dia menggunakan kacamata hitam yang membuatku tidak mampu menembus tatapannya.

 

“Kau..kau siapa?” Aku mengutuk dalam hati. Awalnya aku mencoba untuk bertindak berani. Namun yang keluar hanya suara yang menyerupai cicitan kecil dari mulutku. Lelaki ini lebih berbahaya dari para geng.

 

“Kau gadis yang… menarik.” Seringaian muncul disudut bibirnya. Walaupun hanya diterangi oleh cahaya bulan, aku dapat melihatnya dengan jelas bahwa dia sedang tertawa mengejekku.

 

Aku bergerak mundur satu langkah, dua langkah hingga tubuhku terbentur dengan tembok aku sudah tidak dapat bergerak mundur. Lelaki itu masih bergerak maju. Aku sedikit bergetar ketika tubuhnya berada sangat dekat dengan tubuhku hanya berjarak beberapa cm. Dia mensejajarkan kepalanya dengan kepalaku hingga aku dapat mencium aroma tubuhnya. Aroma musk. Dan aku yakin bahwa lelaki ini bukanlah anggota geng. Mana mungkin ada anggota geng yang wangi seperti ini, bahkan setiap saat aku merasa mual ketika berhadapan dengan mereka.

 

Laki-laki itu masih menatapku dibalik kacamata hitamnya. Ya ya walaupun aku tidak yakin apakah dia benar-benar menatapku atau tidak tapi instingku mengatakan bahwa lelaki itu memang sedang menatapku.

 

“Kau milikku. Ingat itu, sayang!” Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku merasa lelaki itu mengecup bibirku sekilas kemudian berjalan mundur dan menjauh meninggalkanku yang masih berdiri mematung. Otakku memerintahkan untuk segera berlari sebelum para preman itu datang, tapi nyatanya aku masih berdiri ditempat ini. Tidak melakukan hal apapun selain memegangi bibirku yang masih terasa hangat. Aku tidak tahu ini mimpi atau kenyataan tapi aku merasakan perasaan hangat menyeruak kedalam hatiku. Walaupun perilakunya tadi sedikit mengintimidasi namun aku tetap merasakan perasaan lembut ketika dia memperlakukanku.

 

***

 

Matahari sudah tinggi dan cuaca di sini semakin panas. Lengan pendek blezer ini tidak dapat menutupi sengatan matahari. Aku mengelap keringat yang menetes dipelipis. Paling tidak hari ini aku tidak membiarkan rambutku tergerai yang pasti akan membuat tubuhku semakin kepanasan. Orang-orang didepanku berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Aku berpikir, apakah menjadi orang kaya itu menyenangkan? Mereka kemana-mana menggunakan barang-barang mahal dan mewah, tidak perlu kepanasan untuk berpergian kesuatu tempat.

 

Setelah 15 menit menunggu, bis yang biasa kutumpangi datang. Kali ini aku bersyukur tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang lain. Aku sedikit menggeser tasku ketika ada seorang ibu-ibu hamil berdiri dengan kepayahan. Berharap tempat yang kusisakan muat menampung tubuhnya yang tidak kecil. Namun hal itu ternyata sia-sia, ibu itu tidak bisa mendudukinya dan alhasil aku yang berdiri. Aku sangat menghormati orang yang lebih tua dariku dan wanita hamil. Walaupun usiaku sudah menginjak 22 tahun, namun aku selalu merasa muda. Dengan kehidupan di Seoul yang tidak mudah, aku berusaha keras untuk mencari uang. Selain untuk menghidupi diriku sendiri, uang yang kuperoleh nantinya akan kukirimkan pada orang tuaku yang tinggal di Mokpo.

 

Bis yang membawaku ke sebuah tempat berhenti. Didepanku menjulang sebuah bangunan yang teramat tinggi, saking tingginya aku merasa bahwa bangunan ini dapat menembus langit yang jelas-jelas bahwa itu adalah hal yang mustahil.

 

Beberapa orang menatapku dengan terang-terangan. Ada yang berpendapat bahwa aku adalah gelandangan yang tersasar ada juga yang berpikir bahwa aku adalah gadis miskin dari kampung. Apapun yang mereka pikirkan aku tidak perduli, inilah resiko yang kutanggung mendengarkan cemoohan mereka tanpa mereka mengatakannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, yang kutahu aku bisa membaca pikiran orang-orang yang sedang menatapku melalui mata mereka sejak aku kecil. Dulu ketika aku masih berada dibangku sekolah, tidak ada yang berani mendekatiku. Mereka berpikir bahwa aku adalah orang berbahaya. Tentu saja karena aku dapat membaca apa yang mereka pikirkan. Setelahnya keluargaku ikut menjauhiku hingga aku dikirim ke Seoul untuk bekerja. Bertahun-tahun aku mencoba untuk mengendalikannya. Sering kali aku ketahuan sedang membaca pikiran mereka. Jadi saat ini aku berpura-pura biasa saja, seakan-akan tidak ada yang salah pada diriku.

 

Lobi itu begitu besar sungguh besar sama seperti lobi dihotel-hotel mewah yang sering kudatangi untuk mengantarkan makanan. Selama 2 tahun aku bekerja sebagai pengantar makanan cepat saji, namun beberapa hari yang lalu aku dipecat karena ketahuan membaca pikiran bosku.

 

Aku mengernyit ketika seorang resepsionis yang berdiri didepanku memikirkan banyak hal dan semua itu adalah hal yang negatif. Mulai dari sex, uang dan hal menjijikkan lainnya padahal dia sedang berbicara denganku. Wajahnya cantik namun pikirannya sama sekali jauh dari kata cantik. Aku tahu bahwa hal itu adalah privasi orang dan aku tidak bisa seenaknya membacanya. Namun akan lebih tidak sopan lagi jika tidak menatap matanya ketika sedang berbicara.

 

“Saya ingin melakukan interview dengan Presdir Luc Corp.” Resepsionist tadi beralih memindai pakaianku. Kemudian menatapku dan mengatakan bahwa aku mungkin saja salah tempat dalam pikirannya. Beberapa detik kemudian, resepsionis itu mengambil telepon kabel dan berbicara dengan sopan dan lembut.

 

“Silahkan anda menuju lantai 20.” Ucapnya datar tanpa menatap mataku sama sekali. Sepertinya dia muak melihatku dan aku tetap tidak perduli akan hal itu. Ini diriku sendiri dan mereka tidak perlu repot-repot mengurus hal yang berhubungan denganku.

 

Kotak baja itu membawaku dengan cepat menuju lantai 20. Ketika pintu terbuka, aku dihadapkan dengan pemandangan yang luar biasa. Ruangan didepanku benar-benar mewah, jauh lebih mewah daripada ruang lobi tadi.

 

Seorang gadis berusia sekitar 20-an menghampiriku dan membungkuk dengan sopan. Gadis itu mengatakan bahwa aku bisa masuk kedalam ruangan presdir dan bertemu dengan beliau. Aku mengangguk dan menggumamkan terima kasih.

 

Pintu didepanku terbuka secara otomatis dan membuatku takjub. Kenapa semua ruangan ditempat ini benar-benar menakjubkan. Lantai marmer yang menjadi alas benar-benar terlihat mewah. Ruangan presdir juga terlihat klasik khas desain Eropa. Rak buku yang tertata dengan berjejer sebagai penghalang ruangan kerja dengan sebuah ruangan yang aku tidak tahu. Kaca besar yang terdapat diseberangku membuatku dapat melihat pemandangan kota Seoul dari ketinggian. Sepertinya menikmati tempat ini dimalam hari akan menjadi hal menyenangkan.

 

Aku berjalan lebih dekat kearah meja besar dengan setumpuk berkas. Deheman dari seorang pria yang sedang duduk membelakangiku membuatku menunduk. Aku tahu telah lancang mengamati ruangan presdir. Tapi aku tidak dapat menahan rasa kagumku pada tempat ini.

 

“Silahkan duduk.” Suara presdir yang berat membuatku terdiam. Aku ingat suara ini, suara yang kemarin malam mengucapkan kata ‘sayang’ kepadaku. Presdir itu memutar kursinya dan aku ternganga tidak percaya. Orang yang kukira sebagai preman kemarin malam adalah presdir di Luc Corp. Dan aku yakin bahwa penglihatanku tidak salah. Walaupun kemarin malam tidak ada cahaya yang menerangi selain cahaya bulan, aku bisa menghafal wajah itu. Wajah orang yang telah mencuri ciuman dariku. Dan kali ini aku tidak dapat membaca pikirannya sama seperti kemarin malam, hanya saja ini berbeda. Mungkin kemarin malam aku tidak dapat membaca pikirannya karena dia mengenakan kaca mata hitam yang menghalangi pandanganku, sedangkan saat ini dia tidak menggunakan kacamata apapun. Matanya yang hitam legam seakan mengunciku. Aku dapar merasakan aura gelap dan kuat menyelimutinya namun aku tidak bisa membaca apa yang dipikirkannya saat ini.

 

Lelaki itu menatapku tajam dan diam. Kemudian sebuah seringai keluar diwajah tampannya. “Apa kabar sayangku?” Aku semakin bergetar ketika dia mengucapkannya dengan datar dan terlihat menakutkan. Wajahnya berubah mengeras ketika aku melangkah mundur. Tas yang tadi kubawa menjadi peganganku. Keringat dingin meluncur dipelipisku, kali ini aku ketakukan. Tidak seperti biasanya. Rasa takutku pada preman kemarin tidak sebesar rasa takutku saat ini. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya padaku. Apalagi aku mendengar lelaki ini telah mengunci pintu dengan otomatis. Dan itu artinya tidak ada jalan untukku kabur. Aku melihat kesegala arah, nafasku berubah menjadi tersengal namun aku memutuskan untuk tidak takut padanya.

 

Lelaki itu berdiri dan menghampiriku dengan angkuh. Kedua tangannya masuk kedalam saku celana. Matanya tidak lepas mengunci mataku. Aku ingin berteriak tapi suaraku seperti hilang. Yang kulakukan hanya menunduk dan merutuki diriku sendiri. Seharusnya aku kemarin tidak percaya dengan yang dikatakan Jung Nara, sahabatku. Setelah aku bisa pulang dengan selamat nanti, aku akan menghabisimu Jung Nara. Geramku dalam hati.

 

Aroma musk memasuki indra penciumanku. Wangi ini masih sama seperti kemarin malam. Tangan kekar laki-laki itu menyentuh rahangku dan memaksaku mendongak untuk menatapnya. Ekspresinya dingin dan tidak terbaca. Kemudian dia mendekatkan wajahnya hingga aku dapat merasakan deru nafasnya menyapu wajahku. Aku tidak dapat menutup mataku. Entah karena apa. Rasanya mata hitam legam itu telah menyihirku dan membuatku tak berdaya. Dia menyeringai kemudian melepaskan pegangan tangannya dirahangku dan kembali ke tempatnya semula. Aku menghembuskan nafas lega dan menormalkan detak jantungku.

 

“Kau diterima, Park Hyera.” Apa? Aku tidak salah dengar kan? Dia mengatakan bahwa aku diterima? Yang benar saja. Bahkan aku belum memperkenalkan diri. Bagaimana dia bisa tahu namaku? Aku mengerjap bingung. Dia duduk dengan santai dan mulai memeriksa tumpukan berkas diatas mejanya. “Kau bisa pergi.” Aku mengangguk. Sepertinya dia tahu apa yang kuinginkan.

 

Aku baru saja berbalik untuk keluar dari ruangan ini. Namun dia menginterupsi ku hingga membuatku berhenti namun tidak berbalik.

 

“Kau bekerja langsung dibawahku. Dan buang pakaian kuno mu itu. Aku ingin kau berpakaian layak besok.” Aku mengangguk dan berniat untuk pergi. Namun lagi-lagi dia menginterupsiku.

 

“Aku Cho Kyuhyun. Atasan sekaligus calon suamimu.” Kali ini aku benar-benar ternganga. Apa yang baru saja dikatakannya? Dia calon suamiku? Hell. Yang benar saja. Aku bahkan tidak mempunyai pacar dan yang lebih sialnya lagi, aku tidak dapat membaca apa yang dipikirkannya. Jadi percuma saja aku menanggapi lelaki yang mungkin sedang sakit itu.

 

Aku diam dan memilih berlalu pergi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagaimana kehidupanku setelah ini. Namun aku merasa bahwa sesuatu yang berbahaya sedang mengincarku. Dan lelaki itu sepertinya lelaki berbahaya dan aku harus menjauhinya secepat mungkin.

Advertisements

59 thoughts on “The Darkest Side (Prolog)

  1. wow menarik cerita’y. Kira” kenapa ya kyuhyun langsung bilang kalo hyera adalah milik’y dan kenapa juga hyera gak bisa baca pikiran kyuhyun.

    Like

  2. hiii aku readers baru disini izin baca ff kamu ya ntah knp lgsng baca ff ini dr semua ff haha dr prolognya seru tp msh bingung knp tbtb kyu tau itu hyera, ya krn baru awal cus lgsng baca sampe chap 6 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s